WISATA PULAU DEWATA

Discover the most beautiful & interesting places to your vacation

Wisata

Peta Bali

Peta Pulau Bali

Bali, sebagai bagian dari kepulauan Indonesia, merupakan sebuah pulau kecil yang indah. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni – budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Bali juga dikenal dengan sebutan Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura. Keunikan panorama dan budayanya membuat pulau ini menjadi eksklusif dan dikenal sebagai pulau impian untuk berwisata. Pulau Bali memiliki banyak tempat menarik untuk dikunjungi, antara lain seperti Pemandangan sawah, gunung api, Objek wisata yang Bersejarah, atraksi dan aktivitas wisata, hutan tropis yang lebat, pantai berpasir yang membentang, tempat – tempat berselancar, serta penduduk yang ramah dan bersahabat, yang tidak hanya memiliki budaya, melainkan hidup dengan sesungguhnya.
Ritual – ritual yang dilakukan oleh suatu komunitas di sini, dan hal – hal menarik lainnya membuat liburan anda menjadi tidak terlupakan. Di Bali, terdapat suatu festival dimana jiwa – jiwa keluar di bawah sinar bulan setiap malam. Bahkan di sini, pemakaman menjadi sebuah tradisi perayaan. Hembusan angin lembut dari laut biru akan membuat liburan impian anda menjadi semakin lengkap. Bali, sebuah pulau yang menjadi surga bagi para dewa, merupakan tujuan yang sempurna bagi liburan anda. Anda dapat menikmati surga ini bersama keluarga atau rekan anda. Bali menawarkan sesuatu yang menarik pada semua orang.
Surga tropis ini memiliki suatu perpaduan unik fasilitas wisata modern yang digabungkan dengan tempat belanja indah yang kaya akan peninggalan dari masa lalu. Orang – orang Bali bangga karena berhasil mempertahankan keunikan budaya Hindunya dalam menghadapi kemajuan zaman. Hal ini masih tercermin dalam kehidupan sehari – hari, dan dapat dilihat di berbagai upacara keagamaan, festival, serta istana dan pura yang megah. Beberapa pantai yang menjadi tempat berselancar terbaik di dunia dapat ditemukan di pantai sisi barat pulau, sedangkan sisi timur adalah surga yang indah untuk keluarga, dengan laut yang tenang dan pantai berpasir putih yang indah.

Agama, Adat, dan Budaya
Di Bali dikenal satu bait sastra yang intinya digunakan sebagai slogan lambang negara Indonesia, yaitu: Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Manggrua, yang bermakna ‘Kendati berbeda namun tetap satu jua, tiada duanya ( Tuhan – Kebenaran ) itu’. Pandangan ini merupakan bantahan terhadap penilaian sementara orang bahwa Agama Hindu memuja banyak Tuhan. Kendati masyarakat Hindu di Bali menyebut Tuhan dengan berbagai nama namun yang dituju tetaplah satu, Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa, yang disebut Tri Murti, kendati terpilah tiga, namun terkait satu jua sebagai proses lahir – hidup – mati atau utpeti – stiti – pralina. Dewata Nawa Sanga sebagai sembilan Dewata yang menempati delapan arah mata angin dan satu di tengah kendati terpilah sembilan lalu menjadi sebelas tatkala terpadu dengan lapis ruang ke arah vertikal bawah – atas – tengah atau bhur – bwah – swah, adalah satu jua sebagai kekuatan Tuhan dalam menjaga keseimbangan alam semesta. Demikian pula halnya dengan nama dan sebutan lain yang dimaksudkan secara khusus memberikan gelar atas ke – Mahakuasa – an Tuhan.
Keyakinan umat Hindu terhadap keberadaan Tuhan / Hyang Widhi yang Wyapi Wyapaka atau ada di mana – mana juga di dalam diri sendiri – merupakan tuntunan yang selalu mengingatkan keterkaitan antara karma atau perbuatan dan pahala atau akibat, yang menuntun prilaku manusia ke arah Tri Kaya Parisudha sebagai terpadunya manacika, wacika, dan kayika atau penyatuan pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik.Tri Hita KaranaUmat Hindu percaya bahwa alam semesta beserta segala isinya adalah ciptaan Tuhan sekaligus menjadi karunia Tuhan kepada umat manusia untuk dimanfaatkan guna kelangsungan hidup mereka. Karena itu tuntunan sastra Agama Hindu mengajarkan agar alam semesta senantiasa dijaga kelestarian dan keharmonisannya yang dalam pemahamannya diterjemahkan dalam filosofi Tri Hita Karana sebagai tiga jalan menuju kesempurnaan hidup, yaitu:

  1. Hubungan manusia dengan Tuhan; sebagai atma atau jiwa dituangkan dalam bentuk ajaran agama yang menata pola komunikasi spiritual lewat berbagai upacara persembahan kepada Tuhan. Karena itu dalam satu komunitas masyarakat Bali yang disebut Desa Adat dapat dipastikan terdapat sarana Parhyangan atau Pura, disebut sebagai Kahyangan Tiga, sebagai media dalam mewujudkan hubungan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi. Hubungan manusia dengan alam lingkungannya; sebagai angga atau badan tergambar jelas pada tatanan wilayah hunian dan wilayah pendukungnya ( pertanian ) yang dalam satu wilayah Desa Adat disebut sebagai Desa Pakraman.
  2. Hubungan manusia dengan sesama manusia; sebagai khaya atau tenaga yang dalam satu wilayah Desa Adat disebut sebagai Krama Desa atau warga masyarakat, adalah tenaga penggerak untuk memadukan atma dan angga.
  3. Hubungan Manusia dengan Alam Lingkungan; Manusia hidup dalam suatu lingkungan tertentu. Manusia memperoleh bahan keperluan hidup dari lingkungannya. Manusia dengan demikian sangat tergantung kepada lingkungannya. Oleh karena itu manusia harus selalu memperhatikan situasi dan kondisi lingkungannya. Lingkungan harus selalu dijaga dan dipelihara serta tidak dirusak. Lingkungan harus selalu bersih dan rapi. Lingkungan tidak boleh dikotori atau dirusak. Hutan tidak boleh ditebang semuanya, binatang – binatang tidak boleh diburu seenaknya, karena dapat menganggu keseimbangan alam. Lingkungan justu harus dijaga kerapiannya, keserasiannya dan kelestariannya. Lingkungan yang ditata dengan rapi dan bersih akan menciptakan keindahan. Keindahan lingkungan dapat menimbulkan rasa tenang dan tenteram dalam diri manusia.

Pelaksanaan berbagai bentuk upcara persembahan dan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa oleh umat Hindu disebut Yadnya atau pengorbanan / korban suci dalam berbagai bentuk atas dasar nurani yang tulus. Pelaksanaan Yadnya ini pada hakekatnya tidak terlepas dari Tri Hita Karana dengan unsur – unsur Tuhan, alam semesta, dan manusia. Didukung dengan berbagai filosofi agama sebagai titik tolak ajaran tentang ke – Mahakuasa – an Tuhan, ajaran Agama Hindu menggariskan pelaksanaan Yadnya dalam lima bagian yang disebut Panca Yadnya, yang diurai menjadi :

  • Dewa Yadnya
    Persembahan dan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Upacara Dewa Yadnya ini umumnya dilaksanakan di berbagai Pura, Sanggah, dan Pamerajan ( tempat suci keluarga ) sesuai dengan tingkatannya. Upacara Dewa Yadnya ini lazim disebut sebagai piodalan, aci, atau pujawali.
  • Pitra Yadnya
    Penghormatan kepada leluhur, orang tua dan keluarga yang telah meninggal, yang melahirkan, memelihara, dan memberi warna dalam satu lingkungan kehidupan berkeluarga. Masyarakat Hindu di Bali meyakini bahwa roh leluhur, orang tua dan keluarga yang telah meninggal, sesuai dengan karma yang dibangun semasa hidup, akan menuju penyatuan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Keluarga yang masih hiduplah sepatutnya melaksanakan berbagai upacara agar proses dan tahap penyatuan tersebut berlangsung dengan baik.
  • Rsi Yadnya
    Persembahan dan penghormatan kepada para bijak, pendeta, dan cerdik pandai, yang telah menetapkan berbagai dasar ajaran Agama Hindu dan tatanan budi pekerti dalam bertingkah laku.
  • Manusia Yadnya
    Suatu proses untuk memelihara, menghormati, dan menghargai diri sendiri beserta keluarga inti ( suami, istri, anak ). Dalam perjalanan seorang manusia Bali, terhadapnya dilakukan berbagai prosesi sejak berada dalam kandungan, lahir, tumbuh dewasa, menikah, beranak cucu, hingga kematian menjelang. Upacara magedong – gedongan, otonan, menek kelih, pawiwahan, hingga ngaben, adalah wujud upacara Hindu di Bali yang termasuk dalam tingkatan Manusa Yadnya.
  • Bhuta yadnya
    Prosesi persembahan dan pemeliharaan spiritual terhadap kekuatan dan sumber daya alam semesta. Agama Hindu menggariskan bahwa manusia dan alam semesta dibentuk dari unsur – unsur yang sama, yaitu disebut Panca Maha Bhuta, terdiri dari Akasa ( ruang hampa ), Bayu ( udara ), Teja ( panas ), Apah ( zat cair ), dan Pertiwi ( zat padat ). Karena manusia memiliki kemampuan berpikir ( idep ) maka manusialah yang wajib memelihara alam semesta termasuk mahluk hidup lainnya ( binatang dan tumbuhan ).

Panca Maha Bhuta, yang memiliki kekuatan amat besar, jika tidak dikendalikan dan tidak dipelihara akan menimbulkan bencana terhadap kelangsungan hidup alam semesta. Perhatian terhadap kelestarian alam inilah yang membuat upacara Bhuta Yadnya sering dilakukan oleh umat Hindu baik secara insidentil maupun secara berkala. Bhuta Yadnya memiliki tingkatan mulai dari upacara masegeh berupa upacara kecil dilakukan setiap hari hingga upacara caru dan tawur agung yang dilakukan secara berkala pada hitungan wuku ( satu minggu ), sasih ( satu bulan ), sampai pada hitungan ratusan tahun. Jadi jangan heran jika anda berkunjung kebali akan menemui banyak warga Bali sekitar melakukan upacara – upacara sehari – hari, Karena itu merupakan wujud rasa cinta kasih atas karunia yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: