WISATA PULAU DEWATA

Discover the most beautiful & interesting places to your vacation

Upacara Yadnya

Posted by Wirahadi Bali on June 4, 2013

Upacara Yadnya

Upacara Yadnya

Yadnya menurut ajaran agama Hindu, merupakan satu bentuk kewajiban yang harus dilakukan oleh umat manusia di dalam kehidupannya sehari – hari. Sebab Tuhan menciptakan manusia beserta makhluk hidup lainnya berdasarkan atas yadnya, maka hendaklah manusia memelihara dan mengembangkan dirinya, juga atas dasar yadnya sebagai jalan untuk memperbaiki dan mengabdikan diri kepada Sang Pencipta yakni Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa.
Kalau ditinjau secara dari ethimologinya, kata yadnya berasal dari bahasa sansekerta, yaitu dari kata “yaj” yang artinya memuja atau memberi penghormatan atau menjadikan suci. Kata itu juga diartikan mempersembahkan ; bertindak sebagai perantara. Dari urat kata ini timbul kata yaja ( kata – kata dalam pemujaan ), yajata ( layak memperoleh penghormatan ), yajus ( sakral, retus, agama ) dan yajna ( pemujaan, doa persembahan ) yang kesemuanya ini memiliki arti sama dengan Brahma.
Yadnya ( yajna ), dapat juga diartikan korban suci, yaitu korban yang didasarkan atas pengabdian dan cinta kasih. Pelaksanaan yadnya bagi umat Hindu adalah satu contoh perbuatan Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa yang telah menciptalan alam semesta dengan segala isinya dengan yadnya-Nya. Yadnya adalah cara yang dilakukan untuk menghubungkan diri antara manusia dengan Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa beserta semua manifestasinya untuk memperoleh kesucian jiwa dan persatuan Atman dengan Paramatman. Yadnya juga merupakan kebaktian, penghormatan dan pengabdian atas dasar kesadaran dan cinta kasih yang keluar dari hati sanubari yang suci dan tulus iklas sebagai pengabdian yang sejati kepada Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa.
Dengan demikian jelaslah bahwa yadnya mempunyai arti sebagai suatu perbuatan suci yang didasarkan atas cinta kasih, pengabdian yang tulus iklas dengan tanpa pamerih. Kita beryadnya, karena kita sadar bahwa Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa menciptakan alam ini dengan segala isinya termasuk manusia dengan yadnyanya pula. Penciptaan Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa ini didasarkan atas korban suci-Nya, cinta dan kasih-Nya sehingga alam semesta dengan segala isinya ini termasuk manusia dan mahluk – mahluk hidup lainnya menjadi ada, dapat hidup dan berkembang dengan baik. Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa yang mengatur peredaran alam semesta berserta segala isinya dengan hukum kodrat-Nya, serta perilaku kehidupan mahluk dengan menciptakan zat – zat hidup yang berguna bagi mahluk hidup tersebut sehingga teratur dan harmonis. Jadi untuk dapat hidup yang harmonis dan berkembang dengan baik, maka manusia hendaknya melaksanakan yadnya, baik kepada Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa beserta semua manifestasi-Nya, maupun kepada sesama makhluk hidup. Semua yadnya yang dilakukan ini akan membawa manfaat yang amat besar bagi kelangsungan hidup makhluk di dunia.
Sesorang hendaknya menyadari, bahwa sesuatu yang dimakan, dipakai maupun yang digunakan dalam hidup ini pada hakikatnya adalah karunia Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Kuasa. Berdosalah ia yang hanya suka menerima namun tidak mau memberi. Setiap orang ingin terlepas dari segala dosa, maka itu setiap orang patut beryadnya. Dengan yadnya, Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa akan memberkahi kebahagiaan dan kesempurnaan hidup. Dia yang tidak beryadnya, yang tidak membalas rahmat yang ia terima sebagaimana yadnya dan anugrah yang diberikan oleh Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa, sesungguhnya ia itu adalah pencuri.
Didalam pelaksanaan upacara yadnya, hal – hal yang patut diperhatikan adalah Desa, kala, Patra. Desa adalah menyesuaikan diri dengan bahan – bahan yang tersedia ditempat yang bersangkutan, di tempat mana upakara yadnya itu dibuat dan dilaksanakan, karena biasanya antara tempat yang satu dengan tempat yang yang lainnya mempunyai cara – cara yang berbeda. Kala adalah penyesuaian terhadap waktu untuk beryadnya, atau kesempatan di dalam pembuatan dan pelasksanaan yadnya tersebut. Sedangkan Patra adalah keadaan yang harus menjadi perhitungan di dalam melakukan yadnya. Orang tidak dapat dipaksa untuk membuat yadnya besar atau yang kecil. Yang penting disini adalah upakara dan upacara yang dibuat tidak mengurangi tujuan yadnya itu dan berdasarkan atas bakti kepada Hyang Widhi, karena di dalam bakti inilah letak nilai – nilai dari pada yadnya tersebut.
Masyarakat Hindu di Bali dalam kehidupan sehari – harinya selalu berpedoman pada ajaran Agama Hindu warisan para lelulur Hindu di Bali terutama dalam pelaksanaan upacara ritual dalam Falsafah Tri Hita Karana.
Arti kata Tri Hita Karana :

  • Tri artinya tiga
  • Hita artinya kehidupan
  • Karana artinya penyebab

Tri Hita Karana artinya : Tiga keharmonisan yang menyebabkan adanya kehidupan yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia dan hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam. Dalam pelaksanaannya tetap berlandaskan ajaran – ajaran Agama Hindu dan dalam kegiatan Upacara Keagamaan berpatokan pada Panca Yadnya.
Yang dimaksud dengan Panca Yadnya adalah : Panca artinya lima dan Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan Tuhan yang dalam istilah Bali masyarakat Hindu menyebutkan Ida Sanghyang Widi Wasa.
Adapun pelaksanaan Panca Yadnya terdiri dari :

  1. Dewa Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan para dewa – dewa.
  2. Butha Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan unsur – unsur alam.
  3. Manusa Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kepada manusia.
  4. Pitra Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas bagi manusia yang telah meninggal.
  5. Rsi Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan para orang suci umat Hindu.

Untuk lebih jelasnya mengenai pelaksanaan Panca Yadnya secara simpel dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Upacara Dewa Yadnya
    Dewa asal kata dalam bahasa Sanskrit “Div” yang artinya sinar suci, jadi pengertian Dewa adalah sinar suci yang merupakan manifestasi dari Tuhan yang oleh umat Hindu di Bali menyebutnya Ida Sanghyang Widhi Wasa. Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas. Upacara Dewa Yadnya adalah pemujaan serta persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan Tuhan dan sinar – sinar suciNYA yang disebut dewa – dewi. Adanya pemujaan kehadapan dewa – dewi atau para dewa karena beliau yang dianggap mempengaruhi dan mengatur gerak kehidupan di dunia ini. Salah satu dari Upacara Dewa Yadnya seperti Upacara Hari Raya Saraswati.
  2. Upacara Bhuta Yadnya
    Bhuta artinya unsur – unsur alam, sedangkan Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas. Kata “Bhuta” sering dirangkaikan dengan kata “Kala” yang artinya “waktu” atau “energi” Bhuta Kala artinya unsur alam semesta dan kekuatannya. Bhuta Yadnya adalah pemujaan serta persembahan suci yang tulus ikhlas ditujukan kehadapan Bhuta Kala yang tujuannya untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan Bhuta Kala dan memanfaatkan daya gunanya. Salah satu dari upacara Bhuta Yadnya adalah Upacara Tawur ke Sanga ( Sembilan ) menjelang Hari Raya Nyepi ( Tahun Baru / Çaka / Kalender Bali ). Upacara Tawur ke Sanga (Sembilan) adalah upacara suci yang merupakan persembahan suci yang tulus ikhlas kepada Bhuta-Kala agar terjalin hubungan yang harmonis dan bisa memberikan kekuatan kepada manusia dalam kehidupan.
  3. Upacara Manusa Yadnya
    Manusa artinya manusia. Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas. Upacara Manusa Yadnya adalah upacara persembahan suci yang tulus ikhlas dalam rangka pemeliharaan, pendidikan serta penyucian secara spiritual terhadap seseorang sejak terwujudnya jasmani di dalam kandungan sampai akhir kehidupan. Adapun beberapa upacara Manusa Yadnya adalah :

    • Upacara Bayi Lahir
      Upacara ini merupakan cetusan rasa bahagia dan terima kasih dari kedua orang tua atas kelahiran anaknya, walaupun disadari bahwa hal tersebut akan menambah beban baginya. Kebahagiaannya terutama disebabkan beberapa hal antara lain : Adanya keturunan yang diharapkan akan dapat melanjutkan tugas – tugasnya terhadap leluhur dan masyarakat. Hutang kepada orang tua terutama berupa kelahiran telah dapat dibayar.
    • Upacara Tutug Kambuhan,
      Tutug Sambutan dan Upacara Mepetik. Upacara Tutug Kambuhan ( Upacara setelah bayi berumur 42 hari ), merupakan upacara suci yang bertujuan untuk penyucian terhadap si bayi dan kedua orang tuanya. Penyucian kepada si Bayi dimohonkan di dapur, di sumur / tempat mengambil air dan di Merajan / Sanggah Kemulan ( Tempat Suci Keluarga ). Upacara Tutug Sambutan ( Upacara setelah bayi berumur 105 hari ), adalah upacara suci yang tujuannya untuk penyucian Jiwatman dan penyucian badan si Bayi seperti yang dialami pada waktu acara Tutug Kambuhan. Pada upacara ini nama si bayi disyahkan disertai dengan pemberian perhiasan terutama gelang, kalung / badong dan giwang / subeng, melobangi telinga. Upacara Mepetik merupakan upacara suci yang bertujuan untuk penyucian terhadap si bayi dengan acara pengguntingan / pemotongan rambut untuk pertama kalinya. Apabila keadaan ubun – ubun si bayi belum baik, maka rambut di bagian ubun – ubun tersebut dibiarkan menjadi jambot ( jambul ) dan akan digunting pada waktu upacara peringatan hari lahir yang pertama atau sesuai dengan keadaan. Upacara Mepetik ini adalah merupakan rangkaian dari upacara Tutug Sambutan yang pelaksanaannya berupa 1 ( satu ) paket upacara dengan upacara Tutug Sambutan.
    • Upacara Perkawinan
      Bagi Umat Hindu upacara perkawinan mempunyai tiga arti penting yaitu :

      1. Sebagai upacara suci yang tujuannya untuk penyucian diri kedua calon mempelai agar mendapatkan tuntunan dalam membina rumah tangga dan nantinya agar bisa mendapatkan keturunan yang baik dapat menolong meringankan derita orang tua / leluhur.
      2. Sebagai persaksian secara lahir bathin dari seorang pria dan seorang wanita bahwa keduanya mengikatkan diri menjadi suami – istri dan segala perbuatannya menjadi tanggung jawab bersama.
      3. Penentuan status kedua mempelai, walaupun pada dasarnya Umat Hindu menganut sistim patriahat ( garis Bapak ) tetapi dibolehkan pula untuk mengikuti sistim patrilinier ( garis  Ibu ). Di Bali apabila kawin mengikuti sistem patrilinier ( garis Ibu ) disebut kawin nyeburin atau nyentana yaitu mengikuti wanita karena wanita nantinya sebagai Kepala Keluarga.

      Upacara Pernikahan ini dapat dilakukan di halaman Merajan / Sanggah Kemulan ( Tempat Suci Keluarga ) dengan tata upacara yaitu kedua mempelai mengelilingi Sanggah Kemulan ( Tempat Suci Keluarga ) sampai tiga kali dan dalam perjalanan mempelai perempuan membawa sok pedagangan ( keranjang tempat dagangan) yang laki memikul tegen – tegenan ( barang-barang yang dipikul ) dan setiap kali melewati “Kala Sepetan” ( upakara sesajen yang ditaruh di tanah ) kedua mempelai menyentuhkan kakinya pada serabut kelapa belah tiga.
      Setelah tiga kali berkeliling, lalu berhenti kemudian mempelai laki berbelanja sedangkan mempelai perempuan menjual segala isinya yang ada pada sok pedagangan ( keranjang tempat dagangan ), dilanjutkan dengan merobek tikeh dadakan ( tikar yang ditaruh di atas tanah ), menanam pohon kunir, pohon keladi ( pohon talas ) serta pohon endong dibelakang sanggar pesaksi / sanggar Kemulan ( Tempat Suci Keluarga ) dan diakhiri dengan melewati “Pepegatan” ( Sarana Pemutusan ) yang biasanya digunakan benang didorong dengan kaki kedua mempelai sampai benang tersebut putus.

  4. Upacara Pitra Yadnya ( Ngaben )
    Pitra artinya arwah manusia yang sudah meninggal. Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas. Upacara Pitra Yadnya adalah upacara persembahan suci yang tulus ikhlas dilaksanakan dengan tujuan untuk penyucian dan meralina ( kremasi ) serta penghormatan terhadap orang yang telah meninggal menurut ajaran Agama Hindu. Yang dimaksud dengan meralina ( kremasi menurut Ajaran Agama Hindu ) adalah merubah suatu wujud demikian rupa sehingga unsur – unsurnya kembali kepada asal semula. Yang dimaksud dengan asal semula adalah asal manusia dari unsur pokok alam yang terdiri dari air, api, tanah, angin dan akasa. Sebagai sarana penyucian digunakan air dan tirtha ( air suci ) sedangkan untuk pralina digunakan api pralina ( api alat kremasi ). Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya ( leluhur ) seperti:

    1. Kita berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit.
    2. Kita berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha.
    3. Kita berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha.
  5. Upacara Rsi Yadnya
    Rsi artinya orang suci sebagai rokhaniawan bagi masyarakat Umat Hindu di Bali. Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas. Upacara Resi Yadnya adalah upacara persembahan suci yang tulus ikhlas sebagai penghormatan serta pemujaan kepada para Resi yang telah memberi tuntunan hidup untuk menuju kebahagiaan lahir – bathin di dunia dan akhirat.

Demikian Upacara Panca Yadnya yang dilaksanakan oleh Umat Hindu di Bali sampai sekarang yang mana semua aktifitas kehidupan sehari – hari masyakat Hindu di Bali selalu didasari atas Yadnya baik kegiatan dibidang sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, pertanian, keamanan dan industri semua berpedoman pada ajaran – ajaran Agama Hindu yang merupakan warisan dari para leluhur Hindu di Bali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: