WISATA PULAU DEWATA

Discover the most beautiful & interesting places to your vacation

Rainan / Hari Suci

Posted by Wirahadi Bali on June 4, 2013

Rainan / Hari Suci Umat Hindu di Bali :

  • Berdasarkan Triwara dan Pancawara
    1. Kliwon : Datangnya setiap 5 ( lima ) hari sekali, Sang Hyang Siwa bersemedi, oleh sebab itu dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Siwa.
    2. Kajeng Kliwon : Datangnya setiap 15 ( lima belas ) hari sekali, pemujaan terhadap Sang Hyang Siwa. Segehan dihaturkan kepada Sang Hyang Durgha Dewi. Dibawah / di tanah ditujukan kepada Sang Bhuta Bucari, Sang Kala Bucari dan Sang Durgha Bucari.
  • Berdasarkan Saptawara dan Pancawara
    1. Anggara Kliwon : disebut Anggara Kasih,
      Pada hari ini beryogalah Sang Hyang Ayu, Sang Hyang Ludra. Persembahan berupa canang, semoga beliau melimpahkan welas asih-Nya, menghilangkan / melebur segala keletuhan ( kekotoran ) di dunia.
    2. Buda Wage : disebut pula Buda Cemeng,
      Pada hari ini beryogalah Sang Hyang Manik Galih menurunkan Sang Hyang Ongkara Mreta di Bumi ini. Yadnya dipersembahkan di Sanggar Kemulan kehadapan Dewi Sang Hyang Sri Nini, agar diciptakannya kemakmuran dunia.
    3. Buda Kliwon :
      Namanya sering disesuaikan dengan wukunya. Hari ini adalah penyucian Sang Hyang Ayu atau Sang Hyang Nirmala Jati, persembahan ditujukan kepada-Nya.
    4. Saniscara Kliwon :
      Hari ini disebut Tumpek, yadnya atau persembahan ditujukan kehadapan Sang Hyang Prama Wisesa.
  • Berdasarkan Pawukon
    1. Banyu Pinaruh : Radite Paing SintaBanyu Pinaruh
      Banyu Pinaruh adalah upacara yadnya yang dilakukan setelah hari raya saraswati, yang bertujuan untuk pembersihan diri. Mohon anugrah Sang Hyang Saraswati. Mandi dengan air kumkuman ( air bersih bercampur bunga harus ) lalu mohon tirta ( Air suci ) agar suci / bersih lahir batin. Banyu Pinaruh asal kata banyu berarti air, Pinaruh atau Pengeruwuh berarti pengetahuan dan hari ini secara nyata umat membersihkan badan dan keramas pada sumber – sumber air atau di laut. Akan tetapi prosesi berkasud  membersihkan kotoran atau kegelapan pikiran yang melakat pada tubuh manusia, dengan ilmu pengetahuan atau mandi dengan ilmu pengetahuan.
    2. Soma Sibek : Soma Pon Sinta
      Soma RibekSang Hyang Tri Murti sedang beryoga dan lumbung sebagai tempat-Nya. Pada hari ini diadakan widhi – widhana untuk selamatan atau penghormatan terhadap beras di pulu dan padi di lumbung yang sekaligus mengadakan pemujaan terhadap Dewi Sri sebagai tanda bersyukur serta semoga tetap memberi kesuburan. Sebaiknya pada hari ini tidak menumbuk padi atau menjual beras. Soma Ribek adalah pemujaan kepada Sanghyang Trimerta ( Tri Mertha ), bertempat dilumbung atau di tempat penyimpanan beras sebagaimana disebutkan dalam kutipan lontar sundarigama dalam hindu bali yang dirayakan pada hari Senin / soma Pon Sinta dengan tetandingan banten untuk upacara yadnya pada soma ribek ini dijelaskan sebagai berikut : nyah – nyah, geti – geti geringsing, raka pisang mas diserta canang wangi – wangi. Pada hari itu, disebutkan orang – orang tidak boleh menumbuk padi ataupun menjual beras, karena akan dikutuk oleh Bhatari Sri.
    3. Sabuh Mas : Anggara Wage Sinta
      Sabuh masSabuh mas adalah upacara yadnya yang pemujaan terhadap Hyang mahadewa sebagai tanda bersyukur semoga selalu melimpahkan restunya pada harta dan barang – barang berharga termasuk perhiasan dengan mengadakan upacara yadnya / widhi widhana. Jatuh setiap dina anggara wage wuku sinta. Sehingga persiapan bebantenan untuk memuja Bhatara Mahadewa pada sabuh mas ini sebagaimana disebutkan “wariga gemet dalam lontar sundarigama” dijelaskan dengan upakaranya antara lain : suci, daksina, peras, penyeneng, sesayut yang disebut Amerta sari, canang lenga wangi, burat wangi dan reresik.

    4. Pagerwesi : Buda Kliwon Sinta
      PagerwesiPagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon wuku Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru, manifestasi Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa sebagai guru sejati yang diiringi oleh Para Dewata Nawa Sanga. Merupakan hari payogan Hyang Pramesti Guru disertai dengan para Dewata Nawa Sanga demi keselamatan alam beserta isinya. Pada hari ini disamping menghaturkan widhi widhana di sanggar Kemulan dan menenangkan pikiran dengan melakukan yoga semadhi. Pada hari ini kita menyembah dan sujud kehadapan Ida Sang Hyang Widhi, Hyang Pramesti Guru beserta Panca Dewata, kita sujud kepadaNya, merenung dan memohon agar hidup kita ini direstuiNya dengan kesentosaan, kemajuan dan lain – lainnya.
    5. Tumpek Landep : Saniscara Kliwon Landep
      Tumpek LandepTumpek Landep adalah pemujaan dan rasa syukur kepada Hyang Pasupati atas segala ciptaanya, sehingga atas analisys dari manusia menggunakan ketajaman Jnana ( pikiran, logika dan ilmu pengetahuannya ) sehingga berhasilah mengolah logam logam yang dipergunakan untuk melancarkan usahanya dalam menunjang kehidupan sehari – hari, sehingga lazimnya pada tumpek ini sepertinya di katagorikan sebagai sarwa sanjata – senjatanyapun yang dari Logam, pada hal yang utama bagaimana ketajaman dari Jnanam kita yang di anugrahi oleh sang maha pencipta. Mengadakan upacara selamatan terhadap semua jenis alat yang tajam atau senjata, serta memohon kehadapan Bhatara Siwa dan Sang Hyang Pasupati agar semua alat / senjata tetap bertuah.
    6. Radite Umanis Ukir :
      Sanggah KemulanRadite Umanis Ukir ini merupakan rahinan yang di Persembahan kehadapan Bhatara Guru di Sanggah Kemulan. Hari ini merupakan puncak upacara Pujawali Bhatara Guru. Jadi umat sedharma hendaknya melakukan persembahyangan memuja Ida Bhatara Guru di sanggah kemulan, dan memohon bimbingan agar dianugrahi pencerahan rohani sehingga kehidupan ini tentram dan damai. Serta dilindungi dari segala mara bahaya yang akan mengganggu kita dan keluarga. Dalam upacara ini akan menggunakan sesajen yang cukup banyak untuk di haturkan kepada Bhatara Guru.
    7. Buda Cemeng Ukir : Buda Wage Ukir
      Persembahan terhadap Sang Hyang Sri Nini, Dewa Sadhana pada tempat menyimpan harta benda dan hari ini tidak baik untuk membayar sesuatu. Batara Rambut Sedana dipuja sebagai Dewi Kesejahteraan yang menganugerahkan harta kekayaan, emas – perak ( sarwa mule ), permata dan uang ( dana ) kepada manusia.
    8. Anggara Kasih Kulantir : Anggara Kliwon Kulantir
      Pada hari ini dilakukan pemujaan kehadapan Bhatara Mahadewa.
    9. Tumpek Uduh, Tumpek Pengatag, Tumpek Pengarah, Tumpek Bubuh : Saniscara Kliwon Wariga
      Bali Tumpek WarigaHari ini adalah merupakan peringatan kemakmuran, penghormatan kepada tumbuh – tumbuhan serta pemujaan kehadapan Sang Hyang Sangkara. Pada hari ini diadakan upacara yadnya selamatan kepada tumbuh – tumbuhan agar tetap memberikan hasil yang baik. Tumpek ubuh / uduh / bubuh adalah hari suci umat Hindu yang dirayakan setiap hari Sabtu kliwon wuku wariga, yaitu upacara untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam manisfestasinya sebagai Sang Hyang Sangkara, pencipta dan pemelihara tumbuh – tumbuhan ). Sebagaimana juga disebutkan perayaan tumpek ubuh ini sebagai rasa bhakti untuk memuja Dewa Sangkara dalam hal perlindungan bagi tumbuh – tumbuhan yang juga dalam Dewata Nawa Sanga, Dewa Sangkara dipuja di Pura Puncak Mangu, sebagai salah satu bagian dari Catur Loka Pala.
    10. Saniscara Paing Warigadean :
      Adalah merupakan hari penyucian Bhatara Brahma dan patut melakukan persembahan.
    11. Anggara Kasih Julungwangi : Anggara Kliwon Julungwangi
      Hari ini juga disebut Anggara Kasih Pangduhan yang bertujuan untuk memulai mengadakan pembersihan pada tiap – tiap Parhyangan dalam rangka menyambut hari raya Galungan.
    12. Sugian Jawa ( Parerebon ) : Wraspati Wage Sungsang
      Sugihan JawaPada hari ini disebut juga Parerebon, turunlah semua Bhatara ke dunia. Sugihan Jawa disebutkan adalah bermakna menyucikan bhuana agung di luar dari manusia. Arti kata Jawa di sini sama dengan Jaba, artinya luar. Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati / Kamis Wage Wuku Sungsang, enam hari sebelum menyongsong perayaan hari raya Galungan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh ( Penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara ). Pelaksanaan upacara ini bertujuan untuk membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing – masing tempat suci.
    13. Sugian Bali : Sukra Kliwon Sungsang
      Sugihan BaliManusia hendaknya memohon kesucian, pembersihan lahir bathin kehadapan semua Bhatara. Sugihan Bali disebutkan berasal dari kata “ wali ” yang artinya “ bagian dalam ”. Secara harfiah, artinya “ pembersihan bagian dalam diri manusia ” yang artinya pembersihan dari dalam diri sendiri. Biasanya masyarakat melakukan yadnya “ penglukatan / melukat ” atau pembersihan diri dari segala bentuk kekotoran diri maupun bathin. Selain pengelukatan tersebut, juga dapat dilaksanakan dengan bakti yoga yang bertujuan untuk memberikan ketenangan diri. Dijelaskan pula, perayaannya sebagaimana disebutkan dalam kalender Bali, Sugihan Bali ini dilaksanakan sehari setelah Sugihan Jawa yaitu sebelum kita mempersiapkan hari raya galungan dalam rangka menyambut kemenangan dharma melawan adharma sehingga manusia hendaknya memohon kesucian, pembersihan lahir batin kehadapan semua Bhatara untuk menghaturkan banten pengeresikan serta runtutannya di merajan / paibon. Demikianlah disebutkan beberapa hal tentang perayaan sugihan bali ini sebagai runtutan dalam menyambut hari raya Galungan dan Kuningan.
    14. Penyekeban : Radite Paing Dungulan
      Pada hari ini sebaiknya waspada dan hati – hati serta menguatkan iman agar tidak tergoda kena penagruh Sang Bhuta Galungan. Penyekeban berarti berusaha untuk menguasai / mengendalikan diri.
    15. Penyajaan Galungan : Soma Pon Dungulan
      Perlu berhati – hati dan mawas diri karena adanya pengaruh dari Sang Bhuta Galungan. Penyajan Galungan, jatuh pada hari Senin Pon Dungulan. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan.
    16. Penampahan Galungan : Anggara Wage Dungulan
      Penampahan GalunganPada hari ini dikuasai oleh Sang Bhuta Amengkurat. Oleh karenanya setelah matahari terbenam dilakukan upacara biakala ( mabiakala ) agar tetap terhindar dari pengaruh Kala Tiganing Galungan yang dilakukan di halaman rumah. Saat hari ini juga dipasang penjor lengkap dengan segala hiasannya. Penjor adalah lambang pertiwi bhuwana agung, alam semesta kita ini dengan segala hasilnya, yang memberikan kehidupan dan keselamatan. Pertiwi atau tanah digambarkan sebagai dua ekor naga yaitu Naga Basuki dan Ananta bhoga. Selain itu juga, penjor merupakan simbol gunung, yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan. Perlengkapan penjor terdiri dari Pala bungkah ( umbi – umbian seperti ketela rambat ), Pala Gantung ( misalnya kelapa, mentimun, pisang, nanas dan lain – lain ), Pala Wija ( seperti jagung, padi dan lain – lain ), jajan, serta sanggah Ardha Candra lengkap dengan sesajennya. Pada ujung penjor digantungkan sampiyan penjor lengkap dengan porosan dan bunga. Sanggah Penjor Galungan mempergunakan sanggah cucuk, sebagai lambang Hyang Ardha Candra yang dibuat dari bambu, dengan bentuk dasar persegi empat dan atapnya melengkung setengah lingkaran sehingga bentuknya menyerupai bentuk bulan sabit.
    17. Hari raya Galungan : Buda Kliwon Dungulan
      GalunganHari ini merupakan peringatan atas terciptanya alam semesta beserta isinya dan kemenangan dharma melawan adharma. Umat Hindu melakukan persembahan kehadapan Sang Hyang Widhi dan Dewa Bhatara / dengan segala manifestasinya sebagai tanda puji syukur atas rahmatnya serta untuk keselamatan selanjutnya. Sedangkan penjor yang dipasang di muka tiap – tiap perumahan yaitu merupakan aturan kehadapan Bhatara Mahadewa yang berkedudukan di Gunung Agung.
    18. Manis galungan : Wraspati Umanis Dungulan
      Melakukan upacara nganyarin / penyucian di Pamarajan / Sanggar Kemulan yang ditujukan kehadapan Hyang Kawitan dan Leluhur. Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melampiaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat – tempat hiburan terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira – ria.
    19. Pamaridan Guru : Saniscara Pon Dungulan
      Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. Pemaridan Guru Adalah kembalinya para Dewa ke Sunyaloka dengan meninggalkan kesejahteraan dan panjang umur pada umatnya. Pada hari ini umat melakukan upacara selamatan, bersembahyang dengan maksud menghaturkan suksma dan mohon penugrahan kerahayuan.  Pada hari ini, dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan yaitu hidup sehat panjang umur. Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. Upacara Yadnya tersebut barmakna, umat menikmati waranugraha Dewata.
    20. Ulihan : Radite Wage Kuningan
      Pada hari ini menghaturkan canang raka dan runtutannya kehadapan Bhatara – Bhatari, beliau kembali ke singgasana / Kahyangan masing – masing.
    21. Pamacekan Agung : Soma Kliwon Kuningan
      Hari ini pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi / Sang Hyang Prameswara dengan menghaturkan upacara memohon keselamatan. Sore hari ( sandikala ) dilakukan upacara segehan di halaman rumah dan dimuka pintu pekarangan rumah yang ditujukan kepada Sang Kala Tiga Galungan beserta pengiring – pengiringnya, agar kembali dan memberi keselamatan.
    22. Buda Paing Kuningan : pujawali Bhatara Wisnu.
    23. Penampahan  Kuningan : Sukra, Wage, Wuku Kuningan,
      9 ( Sembilan ) hari setelah Galungan. Manusia bersiap nampa ( menyongsong ) hari raya Kuningan. Malam harinya persembahyangan terakhir dalam urutan Dewata Nawa Sanga, yaitu pemujaan kepada Sanghyang Tri Purusha ( Sisa, Sada Siwa, Parama Siwa ).
    24. Hari Raya Kuningan : Saniscara Kliwon Kuningan
      kuninganPada hari ini menghaturkan sesaji dan persembahan atas turunnya kembali Sang Hyang Widhi disertai oleh Dewata atau Pitara, mohon keselamatan dunia dengan segala isinya. Upacara dilangsungkan hanya sampai pukul 12.00 ( tajeg surya ), sebab setelah itu para Dewata semuanya kembali ke Suralaya. Hari raya kuningan jatuh pada hari sabtu ( Saniscara ) Keliwon Wuku Kuningan ( hari raya atau Tumpek Kuningan ) atau 10 hari setelah hari raya Galungan. Perayaan Kuningan mengambil waktu pagi hari, ketika matahari mulai terbit. Memang, pancaran kesucian atau situasi keheningan didapat pada waktu tersebut.
    25. Buda Kliwon Pegatwakan : Buda Kliwon Pahang
      Hari ini menghaturkan sesaji yaitu persembahan kehadapan para Dewa Bhatara terutama Sang Hyang Widhi ( Sang Hyang Tunggal ). Sebagai tanda puji syukur atas kemurahan beliau melimpahkan rahmat-Nya untuk kadirgayusaning keselamatan alam semesta beserta isinya. Pegat Tuakan merupakan salah satu hari suci umat Hindu di Bali, yang menandai akhir dari proses perayaan Galungan dan Kuningan yang jatuh setiap dina buda kliwon wuku Pahang. Pada hari suci ini, masyarakat biasanya mengaturkan upacara berupa “Sesayut Dirgayusa” yang tujuannya untuk memohon keselamatan dirinya, masyarakat dan dunia dan juga membersihkan semua bekas – bekas upacara, seperti penjor, treptepan ( sanggar darurat yang terbuat dari bambu ) dan yang lainnya. Penjor – penjor yang menghiasi luar pekarangan rumah akan dicabut pada hari suci ini. Daun – daunan yang menjadi penghias penjor ini akan dibakar. Demikian juga, bekas canang dan yang lainnya, semuanya akan dibakar. Asapnya akan membungbung ke angkasa. Asap ini akan menyampaikan berita ke para dewa di Kahyangan bahwa masyarakat Bali telah usai merayakan kemenangan Dharma ( kebaikan ) melawan Adharma ( kejahatan ).
    26. Tumpek Krulut : Saniscara Kliwon Krulut
      Tumpek KrulutTumpek Krulut atau dikenal juga dengan “Tumpek Lulut”. Kata “Lulut” dalam Bahasa Bali berarti jalinan / rangkaian. Pada upacara ini menghaturkan sesaji dan memuja Sang Hyang Widhi Wasa / Bhatara Iswara di Pamarajan / Sanggar Kamulan, memohon keselamatan. Tumpek Krulut adalah upacara yadnya yang dirayakan setiap sabtu kliwon wuku krulut sebagai sujud syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa / Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dalam manifestasinya sebagai Dewa Iswara atas terciptanya suara – suara suci / tabuh dalam keindahan dan seni. Tujuannya adalah agar perangkat suara untuk kelengkapan upacara tersebut memiliki suara yang indah dan “taksu”. Dari alunan nada tersebut akan melahirkan gerak – gerak nan indah sebagai unsur seni. Dari keindahan itu, seni menjadi hiburan yang dapat menyeimbangkan hidup.
    27. Buda Cemeng Merakih : Buda Wage Merakih
      Pemujaan kehadapan Bhatara Rambut Sadhana yang disebut juga Sang Hyang Rambut Kadhala.
    28. Tumpek Kandang : Saniscara Kliwon Uye
      Tumpek KandangHari ini merupakan weton wewalungan, dan mengadakan upacara selamatan terhadap binatang peliharaan / ternak dan pemujaan terhadap Sang Rare Angon sebagai dewanya ternak, supaya terhindar dari segala penyakit dan tetap dalam keadaan sehat, selamat serta menyenangkan. Tumpek kandang ( tumpek uye ) adalah hari suci umat Hindu yang dirayakan setiap hari Sabtu kliwon wuku uye, yaitu upacara untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam manisfestasinya sebagai Sang Hyang Rare Angon, pencipta dan pemelihara binatang.
    29. Tumpek Wayang : Saniscara Kliwon Wayang
      Tumpek WayangPada hari ini diadakan upacara yang berhubungan atau berkenaan dengan kesenian khususnya wayang, persembahan kehadapan Bhatara Iswara, memohon agar kesenian itu lestari, serta menyenangkan dan bertuah. Tumpek Wayang jatuh pada Sabtu / saniscara kliwon wuku Wayang. Saniscara adalah hari terakhir pada perhitungan Saptawara, Kajeng adalah hari terakhir pada perhitungan Triwara, kliwon adalah perhitungan terakhir dalam pancawara, dan tumpek Wayang adalah tumpek terakhir pada pawukon Bali. Jadi tumpek Wayang menjadi hari yang penuh dengan waktu peralihan.
    30. Buda Cemeng Klawu : Buda Wage Klawu
      Buda Cemeng KulawuPiodalan atau upacara yadnya ini adalah untuk memperingati hari pemujaan khusus kepada Batara Rambut Sedana pada Buda Wage, Wuku Klawu atau lebih dikenal Buda Cemeng Klawu yang jatuh setiap 210 hari sekali. Hari ini pemujaan terhadap Bhatara Rambut Sadhana yang melimpahkan kemakmuran dan kesejahteraan. Perayaan Rairan / Hari Raya Suci / Piodalan / Odalan Sri Rambut Sedana atau lazimnya sering disebut Rambut Sedana memiliki pengertian secara harfiah, “Sri” yang berarti uang, dan “Sedana” berarti uang atau dengan kata lain bagian dari nafkah yang perayaannya dilakukan di setiap rumah tangga dan Pura di lingkungan desa adat. Batara Rambut Sedana dipuja sebagai Dewi Kesejahteraan yang menganugerahkan harta kekayaan, emas – perak ( sarwa mule ), permata dan uang ( dana ) kepada manusia.
    31. Hari Raya Saraswati : Saniscara Umanis Watugunung
      Hari Raya SaraswatiPada hari ini adalah merupakan hari pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati yaitu perayaan turunnya ilmu pengetahuan. Dilakukan upacara selamatan terhadap semua pustaka / ronta ; kitab, sebagai penghormatan dan tanda puji syukur kehadapan beliau yang telah menurunkan ilmu pengetahuan dan mohon selamat serta jaya dalam bidang ilmu pengetahuan. Pemujaan ditujukan kehadapan Sang Hyang Aji Saraswati / Bhatara Saraswati sebagai sewaning pangeweruh. Dan upacara ini jatuhnya setiap 6 ( enam ) bulan sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: