WISATA PULAU DEWATA

Discover the most beautiful & interesting places to your vacation

Perang Tipat Bantal

Posted by Wirahadi Bali on May 23, 2013

Perang Tipat Bantal

Perang Tipat Bantal

Perang Tipat – Bantal adalah sebuah tradisi tahunan yang digelar sejak tahun 1337 oleh masyarakat lokal di Desa Adat Kapal, Mengwi, Kabupaten Badung, Bali. Perang yang tergolong unik itu setiap tahun sekali wajib dilakukan masyarakat Desa Kapal, sesuai perintah ( bhisama ) Ki Kebo Iwa sejak tahun 1263 atau tahun 1341 masehi yang merupakan ungkapan syukur warga kepada Tuhan, atas rezeki dan nikmat yang telah diberikan. Kepercayaan tersebut dilakukan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya hingga kini masih tetap lestari.
Perang ketupat ini ditujukan kepada masyarakat Desa Kapal untuk melakukan “Tajen pengangon” untuk mohon keselamatan dan kesejahteraan umat manusia. Tradisi ini sering juga disebut Aci Rah Pengangon oleh masyarakat setempat atau juga “Siat Tipat Bantal”. Tradisi itu dilaksanakan setiap bulan keempat dalam penanggalan Bali ( sasih kapat ) sekitar bulan September hingga Oktober. Pelaksanaanya diwujudkan dalam bentuk perang – perangan menggunakan “tipat bantal“.
Ritual yang berlangsung di Pura Desa Kapal ini diawali dengan upacara sembahyang bersama oleh seluruh warga desa. Pada upacara tersebut, pemangku adat akan memercikan air suci untuk memohon keselamatan para warga peserta Perang Tipat – Bantal ( perang ketupat ) ini. Mereka terbagi dua kelompok dan berdiri saling berhadapan. Di depan mereka telah tersedia tipat ( ketupat ) dan bantal ( penganan dari tepung ketan dan kelapa ).
Setelah aba – aba dimulai, para pria itu mulai melemparkan tipat dan bantal itu ke kelompok yang ada di depan mereka. Suasana pun gempar ketika tipat dan bantal itu mulai beterbangan di udara. Lalu aksi lempar ketupat dan bantal itu dihentikan sementara. Warga mulai beranjak keluar pura. Kini mereka bersiap di jalan raya yang berada di depan pura lalu tetap berdiri berkelompok, dan saling berhadapan sekitar 15 meter. Suasana kembali riuh ketika ritual itu dimulai lagi. Warga melempar tipat dan bantal itu membabi buta sambil berteriak – teriak dan tertawa.
“Perang” ini menjadi lebih seru ketika para penonton yang berdiri di trotoar ikut mengambil dan melempar tipat itu. Terkadang tak jarang ada ketupat “nyasar” ke arah penonton. Beberapa dari warga yang menonton berteriak dan mencoba berlindung. Maklum, jika terkena lemparan tipat dan bantal ini, badan terasa sakit seperti ditampar benda keras. Walau begitu, tidak ada seorang pun yang marah dan ketika perang berakhir, semua orang berjabat tangan dengan penuh suka cita.
Makna dari ritual ini adalah tipat dan bantal itu harus dilemparkan ke atas dari dua sisi kelompok dan diharapkan bertemu. Tipat merupakan lambang feminim dan bantal merupakan lambang maskulin. Pertemuan antara tipat dan bantal itu merupakan pertemuan maskulin dan feminim. “Laki – laki dan perempuan ketika bertemu akan melahirkan kehidupan. “Benturan tipat dan bantal saat berada di udara kemudian jatuh ke tanah adalah lambang kesuburan bagi warga kami,”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: