WISATA PULAU DEWATA

Discover the most beautiful & interesting places to your vacation

Atraksi Makotek

Posted by Wirahadi Bali on May 23, 2013

Atraksi Makotek

Atraksi Makotek

Pada masa kejayaan kerajaan Mengwi ( abad ke – 17 ), leluhur penduduk Desa Munggu terkenal sebagai prajurit kerajaan Mengwi yang sangat tangguh. Untuk menghormati leluhur mereka sebagai prajurit perang serta untuk mengusir roh – roh jahat dan wabah penyakit, maka setiap sore hari pada Hari Raya Kuningan diadakan sebuah upacara ritual yang disebut dengan MEKOTEK.
Upacara ini dimulai dari pelataran Pura Puseh Munggu kemudian mengitari seluruh wilayah Desa Munggu yang dilaksanakan oleh warga masyarakat dengan membawa sarana upacara dan tongkat kayu panjang sebagai simbol senjata perang.
Tradisi Makotek sendiri akhirnya sampai sekarang sering diperingati khususnya oleh warga Munggu Kecamatan Mengwi, Badung, dengan maksud memohon belas kasihan Tuhan supaya menghindarkan dari wabah penyakit atau segala bahaya yang mengancam kampung Munggu sendiri.
Anda pasti penasaran dengan asal – muasal nama Makotek sendiri. Sebenarnya tak ada yang istimewa dilihat dari namanya, karena sejatinya Makotek diambil dari suara kayu yang saling bertabrakan saat disatukan menjadi piramida. Sehingga asal nama Makotek timbul dari suara kayu – kayu yang bergabung dan menimbulkan bunyi tek…tek…tek! Sebenarnya tradisi Makotek ini bernama grebek yang artinya saling dorong akan tetapi lebih dikenal sebagai Makotek.
Biasanya sebelum tradisi Makotek dimulai maka para peserta akan lebih dulu melakukan persembahyangan bersama di sebuah pura desa. Kemudian dipercikkan air suci. Para peserta Makotek yang ikutpun ada syaratnya yakni tidak diperkenankan jika keluarganya ada yang sedang meninggal atau istrinya melahirkan. Para peserta yang melakukan Makotek pun bisa dari berbagai usia, dimulai remaja sampai orang dewasa. Makotek sendiri biasa dilakukan pada sore hari dengan menggabungkan puluhan kayu pohon pulet yang panjangnya mencapai 3,5 meter sampai akhirnya membentuk kerucut.
Kemudian salah seorang pesertanya menaiki bentukan piramida kayu tersebut sampai ujung puncaknya dengan posisi kerucut. Demikian juga terjadi dengan kelompok lainnya sehingga antar satu kelompok dengan lainnya akan saling serang dan berperang laiknya panglima. Upacara ini dimulai dari pelataran Pura Puseh Munggu kemudian mengitari seluruh wilayah Desa Munggu yang dilaksanakan oleh warga masyarakat dengan membawa sarana upacara dan tongkat kayu panjang sebagai simbol senjata perang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: