WISATA PULAU DEWATA

Discover the most beautiful & interesting places to your vacation

Rumah Adat

Posted by Wirahadi Bali on May 21, 2013

Rumah Adat Bali

Rumah Adat Bali

Rumah Bali yang sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali ( bagian Weda yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan, layaknya Feng Shui dalam Budaya China ). Menurut filosofi masyarakat Bali, kedinamisan dalam hidup akan tercapai apabila terwujudnya hubungan yang harmonis antara aspek pawongan, palemahan dan pahyangan. Untuk itu pembangunan sebuah rumah harus meliputi aspek – aspek tersebut atau yang biasa disebut Tri Hita Karana. Pawongan merupakan para penghuni rumah. Palemahan berarti harus ada hubungan yang baik antara penghuni rumah dan lingkungannya.
Pada umumnya bangunan atau arsitektur tradisional daerah Bali selalu dipenuhi hiasan, berupa ukiran, peralatan serta pemberian warna. Ragam hias tersebut mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan simbol – simbol dan penyampaian komunikasi. Bentuk – bentuk ragam hias dari jenis fauna juga berfungsi sebagai simbol – simbol ritual yang ditampilkan dalam patung. Adapun penjelasan dari masing – masing banguan dalam tata ruang bangunan Rumah ada bali sebagai berikut :

Struktur Rumah Adat Bali

Struktur Rumah Adat Bali

  1. Bangunan Suci ( Sanggah / Sanggar / Merajan / Penugun Karang )
    Fungsi bangunan Merajan ini adalah sebagai tempat suci atau pemujaan kepada Tuhan dan roh suci leluhur. Pada unit bangunan suci ini terdapat beberapa bangunan dengan fungsinya masing – masing serta jumlah bangunan – bangunan ini sangat bervariasi dan tergantung dari pemilik. Namun demikian, yang mutlak terdapat dalam satu unit bangunan suci terdiri dari : Penglurah, Kemulan, Padmasari, Peliangan, Taksu dan Piyasan. Pamerajan ini adalah tempat upacara yang dipakai untuk keluarga. Dan pada perkampungan tradisional biasanya setiap keluarga mempunyai pamerajan yang letaknya di Timur Laut pada sembilan petak pola ruang.
    Selain dari banguan Suci utama, Ada juga bangunan suci lainnya seperti Pelinggih Penugun Karang. Pelinggih Penugun Karang ini biasanya diletakkan berdekatan dengan Merajan, Namun diluar Area Banguan merajan. Kebanyakan Pelinggih Penugun Karang terletak paling barat atau pojok barat utara ( Barat daya ). Fungsi dari penugun karang ini adalah tempat dimana kita melaksanakan pemujaan kepada dewa yang menghuni tempat tinggal atau tanah yang kita tempati.
  2. Bale Dangin  / Bale Gede
    Bale Dangin terletak di bagian Timur atau dangin natah umah, sering pula disebut dengan Bale Gede apabila bertiang 12. Fungsi Bale Dangin ini adalah untuk tempat upacara dan biasa difungsikan sebagai tempat tidur. Fasilitas pada bangunan Bale Dangin ini menggunakan satu bale – bale dan kalau Bale Gede menggunakan dua buah bale – bale yang terletak di bagian kiri dan kanan. Bentuk Bangunan Bale Dangin adalah segi empat ataupun persegi panjang, dan dapat menggunakan saka / tiang yang terbuat dari kayu yang dapat berjumlah 6 ( sakenem ), 8 ( sakutus / astasari ), 9 ( sangasari ) dan 12 ( saka roras / Bale Gede ). Bangunan Bale Dangin adalah rumah tinggal yang memakai bebaturan dengan lantai yang cukup tinggi dari tanah halaman namun lebih rendah dari Bale Meten. Bale Dangin biasanya dipakai untuk duduk – duduk membuat benda – benda seni atau merajut pakaian bagi anak dan suaminya.
  3. Bale Delod
    Bale Delod sebagai Ruang menerima tamu atau ruang tamu. Di Bali bale delod  difunngsikan untuk kegiatan adat, dan atau bale kematian dimana bila ada salah satu anggota keluarga yang meninggal akan disemayamkan disana sebelum prosesi ngaben dilaksanakan. Selain itu bale ini juga berfungsi sebagai tempat meletakan sesajen atau banten sebelum melaksanakan yadnya, sebagai tempat untuk melaksanakan manusa yadnya seperti otonan, potong gigi, dan upacara pemberkatan pernikahan. Lebih Umum bale delod bisa dikatakan sebagai bale yadnya.
  4. Bale Meten / Bale Daja
    Bale Meten terletak di bagian Utara ( dajan natah umah ) atau di sebelah barat tempat suci / Sanggah. Bale Meten ini juga sering disebut dengan Bale Daja, karena tempatnya di zona utara ( kaja ). Fasilitas desain interiornya adalah 2 buah bale yang terletak di kiri dan kanan ruang. Bentuk bangunan Bale Meten adalah persegi panjang, dapat menggunakan saka / tiang yang terbuat dari kayu yang berjumlah 8 ( sakutus ), dan 12 ( saka roras ). Fungsi Bale Meten adalah untuk tempat tidur orang tua atau Kepala Keluarga di bale sebelah kiri. Sedangkan di bale sebelah kanan difungsikan untuk ruang suci, tempat sembahyang dan tempat menyimpan alat – alat upacara. Sebagaimana dengan bangunan Bali lainnya, bangunan Bale Meten adalah rumah tinggal yang memakai bebaturan dengan lantai yang cukup tinggi dari tanah halaman ( ± 75-100 cm ). Bangunan ini adalah bangunan yang memiliki tempat tertinggi pada seluruh bale dalam satu pekarangan disamping untuk menghindari terjadinya resapan air tanah.
  5. Bale Dauh / Loji
    Bale Dauh ini terletak di bagian Barat ( Dauh natah umah ), dan sering pula disebut dengan Bale Loji, serta Tiang Sanga. Fungsi Bale Dauh ini adalah untuk tempat menerima tamu dan juga digunakan sebagai tempat tidur anak remaja atau anak muda. Fasilitas pada bangunan Bale Dauh ini adalah 1 buah bale – bale yang terletak di bagian dalam. Bentuk Bangunan Bale Dauh adalah persegi panjang, dan menggunakan saka atau tiang yang terbuat dari kayu. Bila tiangnya berjumlah 6 disebut sakenem, bila berjumlah 8 disebut sakutus / astasari, dan bila tiangnya bejumlah 9 disebut sangasari. Bangunan Bale Dauh adalah rumah tinggal yang memakai bebaturan dengan lantai yang lebih rendah dari Bale Dangin serta Bale Meten.
  6. Lumbung ( Jineng )
    Lumbung sebagai tempat untuk menyimpan hasil panen, berupa padi dan hasil kebun lainnya. Fungsinya sebagai penyimpanan hasil panen yang berupa gabah di bagian atapnya. Dan dibawahnya dibentuk menyerupai bale untuk tempat bersantai dan bercengkrama bersama keluarga. Orang – orang yang memiliki jineng ini biasanya golongan petani yang memiliki hasil panen setiap tahun.
  7. Dapur ( Paon )
    Paon ( Dapur ) yaitu tempat memasak bagi keluarga. Bagian yang terpenting dari rumah dapur orang bali tempatnya terpisah dengan bagian – bagian rumah yang lain. Dapur biasanya ditempatkan disebelah barat bale delod berdekatan dengan pintu masuk rumah atau dalam bahasa bali biasa disebut lebuh. Fungsi dapur di bali memang sama dengan dapur – dapur pada umumnya akan tetapi bagian – bagian dapur tradisional bali harus memiliki tungku dalam bahasa bali disebut Bungut Paon. Tungku ini fungsinya sebagai pengganti kompor atau hanya symbol saja tetapi tidak digunakan. Tungku ini juga berfungsi sebagai tempat meletakan yadnya sesa atau banten jotan ( sesajen setelah selesai memasak di pagi hari ). Diatas bungut paon itu biasa dibuatkan Langgatan ( sejenis rak tradisional ). Jika memasak menggunakan bungut paon langgatan berfungsi sebagai tempat meletakan kayu bakar yang sudah kering dan siap digunakan.
  8. Pengaling – aling
    Aling – aling adalah bagian pintu gerbang yang berfungsi sebagai pengalih jalan masuk sehingga jalan masuk tidak lurus kedalam tetapi menyamping. Hal ini dimaksudkan agar pandangan dari luar tidak langsung lurus ke dalam.
  9. Candi Bentar / Angkul – angkul / Gapura
    Angkul – angkul yaitu Pintu Gerbang yang berfungsi seperti candi bentar pada pura yaitu sebagai gapura jalan masuk.

7 Responses to “Rumah Adat”

  1. […] Rumah adat « wisata pulau dewata […]

  2. natus said

    aku suka banget dgn rumah adat ini

  3. […] Sumber: infoobjek.wordpress.com […]

  4. […] Sumber: infoobjek.wordpress.com […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: