WISATA PULAU DEWATA

Discover the most beautiful & interesting places to your vacation

Nasi Yasa

Posted by Wirahadi Bali on May 7, 2013

Nasi Yasa

Nasi Yasa

Nasi yasa yang telah dikenal sejak masa silam tampaknya berkembang dari makanan tradisional masyarakat agraris Bali yang hidup di pedesaan. Kata yasa ( Bahasa Jawa Kuno ) menjadi jasa ( dalam bahasa Indonesia ) artinya sesuatu kegiatan atau perbuatan yang terpuji ( luhur ). Secara historis, belum diketahui secara pasti, kapan tradisi persembahan nasi yasa mulai dibuat dan dilakukan oleh masyarakat tradisional Bali.
Persembahan nasi yasa umumnya dibuat oleh keluarga atau komunitas banjar / desa adat yang menyelenggarakan yadnya / ritual dan dimaksudkan untuk mengiringi dan menyempurnakan doa dan rasa bhakti warga masyarakat kepada Tuhan ( Hyang Widhi ) dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa / Dewi, Bhatara / Bhatari atau arwah leluhur. Persembahan suci dalam bentuk nasi yasa diberikan kepada mereka yang ikut ngayah ( membantu bekerja ) dalam kegiatan dewa yadnya, pitra yadnya, dan jenis ritual lainnya. Selain itu, nasi yasa juga dipersembahkan untuk arwah leluhur. Persembahan nasi yasa sudah lama dikenal dalam tradisi kehidupan beragama pada desa – desa adat yang ada di Bali.
Nasi yasa tradisional umumnya dibuat dari nasi kukus berwarna kuning yang terbuat dari bahan kunir dicampur santan. Selain nasi, komposisi lauk pauk dan sayur mayur dan perlengkapan lainnya, yaitu ikan ( ikan air tawar : lindung / belut, ikan nyalian, udang; ikan air laut : gurita, gerang / ikan asin, telur bebek rebus yang dibelah ), sayur – mayur ( tuwung, mentimun, kecarum / daun kemanggi ), kacang – kacangan ( kacang komak, botor atau kacang mentik / kacang merah ), saur dan sambel embe dengan garam. Nasi yasa umumnya diwadahi tamas yang terbuat dari daun kelapa ( janur ), atau wadah dari ceper ( nista ).
Adapun makna – makna dari isi dalam nasi yaitu :

  • Nasi merupakan makanan pokok ( amertha ) masyarakat agraris sebagai sumber tenaga untuk kehidupan ( beraktivitas ) dan kesehatan.
  • Kunir dengan warna kuning secara kultural berarti kesucian ( symbol alam sorga atau symbol kebahagiaan ). Secara sanitasi, kunir mempunyai fungsi hegenis atau obat infeksi.
  • Tuwung simbul dari kapatuhan, yaitu patuh pada ajaran dharma atau kebenaran. Makna ini sering terungkap dalam frase kalimat Bahasa Bali yaitu:”milu – milu tuwung”.
  • Mentimun dapat diasumsikan sebagai simbul dari keteduhan hati atau kedamaian ( shanti ).

Secara umum, nasi yasa dapat dimaknai sebagai persembahan makanan suci ( amertha ) dalam suatu kegiatan ritual suci ( dewa yadnya, pitra yadnya ) untuk mendapatkan berkah, keselamatan ( rahayu ), kesehatan dan kebahagiaan hidup secara jasmani dan rohani ( harmoni ) berdasarkan ajaran etika dan moral dharma ( kebenaran ) budaya Hindu; Dalam dinamika kehidupan sosial budaya dan ekonomi masyarakat Bali, nasi yasa kemudian tidak hanya dipersembahkan untuk yadnya atau bermakna cultural saja, tetapi telah berkembang dan berpadu dengan kegiatan aspek ekonomi ( perdagangan ) masyarakat lokal. Komposisinya pun berubah dan disesuaikan dengan kebutuhan gizi, seperti penambahan lauk – pauk atau nasi. Selain penambahan lauk – pauk ( daging ayam goreng yang disuir – suir, atau sate ayam ) untuk kepetingan ekonomi ( perdagangan ), nasi yasa sekarang dikemas dengan wadah kertas plastik atau kertas manila, dan diperjualbelikan di warung – warung makanan tradisional, baik di warung makan atau di pasar tradisional untuk masyarakat umum sebagai makanan pengganjal perut ( sarapan pagi ).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: