WISATA PULAU DEWATA

Discover the most beautiful & interesting places to your vacation

Tari Genjek

Posted by Wirahadi Bali on May 1, 2013

Tari Genjek

Tari Genjek

Kesenian Genjek di Bali, bermula dari acara kumpul – kumpul sambil minum. Bali memang selalu memunculkan ide – ide kreatif masyarakatnya. Bahkan kegiatan yang dianggap negatif pun dapat diambil nilai positifnya. Sebagian besar orang mungkin sudah mengenal music rap dimana orang mengeluarkan kata selayaknya orang bernyanyi. Hal yang sejenis dengan itu pun sudah berkembang di Bali cukup lama. Namun bedanya disini dilakukan dengan beberapa orang yang bersahut-sahutan. Kegiatan ini berkembang dan dikenal dengan istilah ‘Genjek”.
Tari Genjek adalah salah satu jenis kesenian tradisional yang sampai saat ini masih berkembang di Karangasem. Seni Genjek ini awalnya merupakan salah satu seni karawitan, dimana penampilannya pada setiap kesempatan tidak terlalu banyak menggunakan berbagai jenis instrumen seperti yang terdapat pada seni kerawitan lainnya. Elemen yang paling dominan dipakai dalam seni Genjek ini adalah elemen suara ( vocal ) yang dikemas dalam bentuk tembang atau gending.
Bermula dari acara kumpul – kumpul sambil minum arak dan tuak, beberapa orang yang sudah hilang kendali dalam artian mabuk, mereka mengeluarkan suara – suara yang tidak tentu dan akhirnya disahuti dengan yang lainnya. Kesan senang dan gembira terpancarkan dari cara mereka mengungkapkan kata – kata dengan berirama selayaknya sebuah lagu tersebut. Sebagian orang lainnya akan menirukan suara musik sebagai pelengkap dari genjek khususnya suara kendang dan kempul. Seni ini pada mulanya berkembang di daerah Bali bagian timur ( Karangasem ) dan selanjutnya dikenal ke seluruh bagian wilayah Bali lainnya. Bahkan di Bali utara sendiri seni ini terkadang dilengkapi dengan pementasan joged lengkap dengan alat musiknya yang dilakukan setelah para seniman Genjek selesai.
Jika diperhatikan, Genjek ini mirip dengan Janger. Perbedaannya terletak pada formalitas dalam membawakannya. Janger terkesan bersifat formal dan dilakukan oleh dua kelompok lelaki dan perempuan. Dengn pembawaan tembang yang masih dalam bahasa yang sangat halus disertai music dan tarian yang sudah diatur sedimikian rupa. Sedangkan Genjek lebih memakai bahasa sehari – hari yang seadanya. Namun keduanya sama – sama menyiratkan kegembiraan.
Seiring dengan berjalannya waktu, seni ini berkembang dan dilakukan oleh mereka yang tidak dalam pengaruh minuman tersebut. Kata – kata yang diperdengarkan pun semakin bervariasi yang diambil dari bahasa sehari – hari masyarakat seperti: perasaan jatuh cinta / kagum dengan seorang wanita, masalah pikiran yang dialami di kantor dan yang lainnya. Harapan seni ini nantinya bisa dijadikan sebagai ajang bercerita tanpa harus menyinggung orang lain dan utamanya tanpa minuman keras yang biasa menyertai.
Kreativitas pun terus berjalan dengan masuknya para wanita yang ikut menyanyi, supaya sahut – menyahut dalam lagu menjadi lebih hidup. Tiba – tiba masuk pula alat tabuh angklung bambu ( gerantangan ) yang biasa mengiringi tari joged. Maka seni genjek mengalami perjalanan yang demikian cepat, dari seni mabuk menjadi seni koor khas Bali dengan irama yang demikian enerjik. Apalagi unsur mabuknya kemudian berangsur dihilangkan, serta masuknya tarian joged yang membuat tarian ini semakin bervariasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: