WISATA PULAU DEWATA

Discover the most beautiful & interesting places to your vacation

Tradisi Mesuryak

Posted by Wirahadi Bali on April 18, 2013

Tradisi Mesuryak

Tradisi Mesuryak

Hari raya Kuningan, bagi umat Hindu, khususnya di Bali merupakan rangkaian dari hari raya Galungan yang datangnya setiap enam bulan sekali dalam kalender Bali. Berbagai prosesi keagamaan diadakan sebagai ungkapan wujud syukur kehadapan Tuhan, atas penghidupan yang telah dianugrahkan. Salah satunya, tradisi unik yang disebut mesuryak, yang dilakukan oleh masyarakat Banjar Bongan Gede dan Bongan Pala Desa Bongan Kecamatan Tabanan dalam rangkaian hari raya Kuningan.
Upacara yang disebut mesuryak merupakan momen sukaria di mana masyarakat memperebutkan uang yang dilempar ke udara dari masing – masing rumah tangga. Masyarakat sekitar meyakini upacara itu mengantar para leluhur kembali ke surga. Upacara mesuryak oleh masyarakat sekitar dikatakan telah dilakukan secara turun – temurun. Awalnya zaman dahulu dipakai uang kepeng, tetapi dalam perkembangannya diganti dengan mata uang rupiah dalam berbagai pecahan. Bahkan tidak jarang pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu turut diperebutkan.
Sebelum mesuryak, masing – masing krama melangsungkan upakara di merajan masing – masing. Setelah itu, pukul 09.30 wita, semua sarana upacara berupa sajen, banten yang diaturkan dalam persembahyangan dibawa ke jalan di depan pintu gerbang rumah. Sebelum digelar mesuryak, tetua keluarga memimpin upacara agar para leluhur pulang kembali dengan bahagia.
Mesuryak merupakan upacara yang bertujuan untuk memberikan bekal berupa uang dan beras terhadap leluhur yang akan kembali ke Suarga Loka. Mesuryak menjadi tradisi yang mendarah daging. Upacara ini disebut mesuryak, yang berarti “teriak”, karena masyarakat berteriak dan bergembira saat melepas leluhurnya kembali ke Suarga Loka. Leluhur yang dilepas, dibekali banten pangadegan. Banten pangadegan merupakan sesaji yang diletakkan di depan kori ( gerbang rumah ). Sesaji ini terdiri dari beras, telur, pis bolong, dan perlengkapan lainnya yang disiapkan sebagai bekal leluhur.
Saat semua selesai disiapkan, warga Bongan berbondong – bondong turun ke jalan. Orang tertua di masing – masing keluarga diberikan kehormatan untuk menghaturkan banten pangadegan tersebut. Uang yang telah disiapkan sebagai sesari yang diletakkan diatas canang, kemudian di buang ke atas. Warga yang lainnya segera memperebutkan uang tersebut. Tua, muda, laki – laki dan perempuan berdesak – desakkan memperebutkan uang yang dilemparkan tersebut. Mesuryak harus dilakukan sebelum pukul 12.00. Warga mempercayai, jika upacara ini diadakan lewat dari jam 12.00, dewa – dewi yang turun ke dunia adalah dewa – dewi yang tidak sempurna atau dalam keadaan cacat.
Siapa saja boleh ikut dalam acara ini. Setelah satu merajan atau keluarga selesai mesuryak, disusul oleh keluarga yang lainnya. Suasana riang gembira pun terpancar. Upacara ini juga menjadi bentuk keakraban antar – krama. Tradisi mesuryak juga sebagai bentuk hubungan kekerabatan di antara warga. ‘Kegiatan ini dilakukan dengan riang,’. Hingga kini, warga Bongan lainnya tetap mengadakan mesuryak yang telah berpuluh – puluh tahun  menjadi tradisi yang tak pernah ditinggalkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: