WISATA PULAU DEWATA

Discover the most beautiful & interesting places to your vacation

Hari Siwaratri

Posted by Wirahadi Bali on June 5, 2013

Hari Siwaratri

Hari Siwaratri

Siwaratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa. Hari Siwaratri mempunyai makna khusus bagi umat manusia, karena pada hari tersebut Sang Hyang Siwa beryoga.
Sehubungan dengan itu umat Hindu melaksanakan kegiatan yang mengarah pada usaha penyucian diri, pembuatan pikiran ke hadapan Sang Hyang Siwa, dalam usaha menimbulkan kesadaran diri ( atutur ikang atma ri jatinya ). Hal itu diwujudkan dengan pelaksanaan brata berupa upawasa, monabrata dan jagra. Siwarâtri juga disebut hari suci pajagran. Siwarâtri jatuh pada hari Catur Dasi Krsna paksa bulan Magha ( panglong ping 14 sasih Kapitu ). Brata Siwarâtri terdiri dari:

  • Utama, melaksanakan : Monabrata, Upawasa dan Jagra.
  • Madhya, melaksanakan : Upawasa dan Jagra.
  • Nista, hanya melaksanakan : Jagra
    Pengertian singkat :

    • Monabrata ( berdiam diri dan tidak berbicara ).
      Monabrata berlangsung dan pagi hari pada panglong ping 14 sasih Kapitu sampai malam ( 12 jam ).
    • Upawasa ( tidak makan dan tidak minum ).
      Upawasa berlangsung dan pagi hari pada panglong ping 14 sasih Kapitu sampai dengan besok paginya ( 24 jam ). Setelah itu sampai malam ( 12 jam ) sudah bisa makan nasi putih dengan garam dan minum air putih ( air tawar tanpa gula ).
    • Jagra ( berjaga, tidak tidur ).
      Jagra yang dimulai sejak panglong ping 14 berakhir besok harinya jam 18.00 ( 36 jam ).

Tata cara melaksanakan Upacara Siwarâtri ;

  1. Untuk Sang Sadhaka sesuai dengan dharmaning kawikon.
  2. Untuk Walaka, didahului dengan melaksanakan sucilaksana ( mapaheningan ) pada pagi hari panglong ping 14 sasih Kapitu. Upacara dimulai pada hari menjelang malam dengan urutan sebagai berikut :
    • Maprayascita sebagai pembersihan pikiran dan batin.
    • Ngaturang banten pajati di Sanggar Surya disertai persembahyangan kehadapan Sang Hyang Surya, mohon kesaksian – Nya.
    • Sembahyang kehadapan leluhur yang telah sidha dewata mohon bantuan dan tuntunannya.
    • Ngaturang banten pajati ke hadapan Sang Hyang Siwa. Banten ditempatkan pada Sanggar Tutuan atau Palinggih Padma atau dapat pula pada Piasan di Pamerajan atau Sanggah. Kalau semuanya tidak ada, dapat pula diletakkan pada suatu tempat di halaman terbuka yang dipandang wajar serta diikuti sembahyang yang ditujukan kepada Sang Hyang Siwa dan Dewa Samodaya.( * )
      Setelah sembahyang dilanjutkan dengan nunas tirta pakuluh. Terakhir adalah masegeh di bawah di hadapan Sanggar Surya. Rangkaian upacara Siwarâtri, ditutup dengan melaksanakan dana punia.
    • Sementara proses itu berlangsung agar tetap mentaati upowasa dan jagra. Upawasa berlangsung dan pagi hari pada panglong ping 14 sasih Kapitu sampai dengan besok paginya ( 24 jam ). Setelah itu sampai malam ( 12 jam ) sudah bisa makan nasi putih berisi garam dan minum air putih. Jagra yang dimulai sejak panglong ping 14 berakhir besok harinya jam 18.00 ( 36 jam ).
    • Persembahyangan seperti tersebut ( * ), dilakukan tiga kali, yaitu pada hari menjelang malam panglong ping 14 sasih Kapitu, pada tengah malam dan besoknya menjelang pagi.

Dari kalangan para peminat spiritual, cerita Lubdaka itu diterjemahkan sebagai berikut : Jika seseorang sudah mampu membunuh sifat kebinatangannya, maka timbullah rasa ingin dekat dengan Tuhan ( Ida Sang Hyang Widhi Wasa ). Rasa keinginan atau hasrat ( kerinduan ) itu diwujudkan dengan berbagai cara ( berjapam / mengulang – ngulang nama suci Tuhan ), beryajna dan sebagainya.
Brata Siwa Ratri Pada Tilem Kepitu Hal ini dilukiskan oleh Lubdaka yang memetik daun – daun Bila, dan mengenai Lingga Sang Hyang Siwa di telaga. Diistilahkan dengan seseorang yang sedang berjapam. Arwah Lubdaka menjadi rebutan, namun kemudian Siwa sendiri yang menyelamatkannya. Ini adalah suatu kiasan, bahwa betapapun besar dosa seseorang, jika sudah mohon ampun kehadapan –Nya serta insaf maka kesalahan itu akan diampuni oleh-Nya.

Cerita Lubdhaka dan Makna Hari Raya Siwaratri;
Hari raya Siwa Ratri yang dikisahkan hari raya Siwa Ratri ini berawal dari perjalanan Lubdhaka si pemburu miskin yang berbahagia dalam perjalanan hidupnya, sekalipun tidak disadari karena secara kebetulan. Dikatakan berbahagia, lantaran sekalipun dalam sehari-hari selalu melakukan tindakan sadis, melakukan pembunuhan satwa ( binatang ), tetapi bisa masuk surga, alam swah loka sesudah meninggal.
Dari pandangan mata secara awam saja, tentu perbuatan membunuh, menghilangkan nyawa mahluk lain di luar tujuan yadnya, adalah berdosa. Misteri kematian dan perjalanan arwah Lubdhaka tidak banyak yang mengetahuinya. Pemburu tersebut dalam mitologi Hindu meninggal beberapa hari setelah Siwaratri lantaran menderita suatu penyakit. Istri dan anak – anaknya merasa kehilangan.
Suatu hari lelaki itu seharian berburu, namun sama sekali tidak mendapat binatang buruan. Waktu itu jangankan ia berhasil memanah seekor binatang untuk dibawa pulang, melihat bayangan binatang saja tidak. Sangat apes hari itu perjalanan Lubdhaka sebagai pemburu profesional. Dalam kehampaan, jengkel bercampur lelah fisik karena lapar dan harus Lubdhaka memutuskan tidak bertolak pulang menemui istri dan anak – anak kesayangannya. Dengan perasaan pasrah dan nekat ia memutuskan bermalam di hutan, padang perburuannya seorang diri.
Waktu itu sebagai pemburu Lubdhaka tidak memiliki motip lain, bertahan di hutan. Kecuali satu harapannya, malam itu ia akan menemukan binatang dan berhasil memanahnya untuk dibawa pulang. Ia memilih berdiam di sebuah pohon dekat telaga yang airnya sangat bening.
Lubdhaka boleh saja berharap, namun kenyataannya sampai tengah malam yang sunyi senyap hasilnya tetap nihil. Malah dalam malam gelap ia dilanda ketakutan. lantas Lubdhaka memilih memanjat sebuah pohon yang lumayan rindang, antisipasinya supaya terhindar dari sergapan binatang buas. Untuk menahan kantuknya tangan memetik satu persatu dahan pohon yang tidah. Ternyata malam saat Lubdhaka menginap di hutan adalah Malam Siwa ( Siwa Latri ), yakni malam payogan Hyang Siwa.
Dimana dibawah pohon tempatnya memanjat ada sebuah telaga dan perwujudan Siwa beryoga. Pohon yang dinaiki adalah pohon Bila, serta dalam petikan lelaki itu tepat mengenai patung Siwa tersebut. Karena takut jatuh otomatis laki – laki itu tetap terjaga ( jagra ) sampai pagi. Aktivitas Lubdhaka malam itulah mendapat pahala dari Hyang Siwa, hingga ia berhak masuk sorga.
Aktivitasnya itu sama nilainya dengan yang dikerjakan Siwa. Beryoga, menahan haus, lapar, tidak tidur dan menahan nafsu – nafsu lainnya. Di Khayangan rohnya sempat menjadi rebutan, antara penguasa neraka dan surga. Perjalanan Lubdhaka sebagai pemburu sampai masuk sorga cukup kontroversial.
Malahan di kalangan umat Hindu sendiri, hal ini masih menjadi masalah yang patut untuk didiskusikan, artinya begini, pantaskah seorang Lubdhaka yang melakukan pembunuhan terhadap sarwa buron ini mendapatkan pengampunan dosa hanya karena melakukan kegiatan begadang semalam suntuk.
Pada hari Siwaratri ini umat memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam prabhawanya sebagai Siwa Mahadewa. Umat patut melaksanakan brata, meningkatkan kesucian rohani dan latihan mengekang hawa nafsu. Tujuannya agar memiliki daya tahan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di dunia ini. Terbebas dari berbagai godaan yang bisa menjerumuskan dan menyesatkan hidup, karena perbuatan menyimpang dari ajaran dharma atau Agama.
Saat dia meninggal, Atman ( Rohnya ) menuju sunia loka, bala tentara Sang Suratma ( Malaikat yang bertugas menjaga kahyangan ) telah datang menjemputnya. Mereka telah menyiapkan catatan hidup dari Lubdaka yang penuh dengan kegiatan Himsa Karma ( memati – mati ).
Namun pada saat yang sama pengikut Siva pun datang menjemput Atma Lubdaka. Mereka menyiapkan kereta emas. Lubdaka menjadi rebutan dari kedua balatentara baik pengikut Sang Suratma maupun pengikut Siva. Ketegangan mulai muncul, semuanya memberikan argumennya masing – masing. Mereka patuh pada perintah atasannya untuk menjemput Atma Sang Lubdaka.
Saat ketegangan memuncak Datanglah Sang Suratma dan Siva. Keduanya kemudian bertatap muka dan berdiskusi. Sang Suratma menunjukkan catatan hidup dari Lubdaka, Lubdaka telah melakukan banyak sekali pembunuhan, sudah ratusan bahkan mungkin ribuan binatang yang telah dibunuhnya, sehingga sudah sepatutnya kalo dia harus dijebloskan ke negara loka.
Siva menjelaskan bahwa; Lubdaka memang betul selama hidupnya banyak melakukan kegiatan pembunuhan binatang, tapi semua itu karena didasari oleh keinginan / niat untuk menghidupi keluarganya.
Dan dia telah melakukan tapa brata ( mona brata, jagra dan upavasa / puasa )  salam  Siva Ratri / Malam Siva, sehingga dia dibebaskan dari ikatan karma sebelumnya. Dan sejak malam itu Dia sang Lubdaka menempuh jalan hidup baru sebagai seorang petani.
Oleh karena itu Sang Lubdaka sudah sepatutnya menuju Suarga Loka ( Sorga ). Akhirnya Sang Suratma melepaskan Atma Lubdaka dan menyerahkannya pada Siva. ( Kisah ini adalah merupakan Karya Mpu Tanakung, yang sering digunakan sebagai dasar pelaksanaan Malam Siva Ratri ).

Hari suci Tilem datangnya tiap bulan, tapi mengapa tilem Kepitu mempunyai keistimewaan tersendiri. Untuk itu mari kita simak keutamaan brata Siwaratri yang tercantum dalam “ Padma Purana ” dituangkan dalam percakapan antara seorang Maha Rsi, yaitu Wasistha dengan seorang Raja yang bernama Dilipa. Maka kutipannya sebagai berikut :
“Dengarkanlah Paduka, saya akan menjelaskan kepada Anda tentang Brata Malam Siwa yang sangat utama, satu-satunya sarana untuk mencapai Siwaloka. Hari keempat belas paruh gelap bulan Magha atau Palguna, patut diketahui sebagai Malam Siwa ( Siwaratri ), yang menghapuskan segala papa.
Anugerah itu paduka, tidak didapatkan dengan tapa, dana, japa, semadhi, tidak juga dengan upacara dan sebagainya. Brata Malam Siwa paduka, adalah yang paling utama diantara segala brata, bagi Meru diantara Gunung, Matahari diantara segala yang bercahaya, Pertapa diantara mahluk berkaki dua, dan Kapila diantara mahluk berkaki empat, Gayatri diantara mantra, Amerta diantara segala yang cair, Wisnu diantara laki-laki dan Arundhati diantara wanita”.

Banyak kalangan yang kurang setuju, jikalau malam Siwaratri sebagai malam penebusan dosa. Karena kepercayaan Hindu, hukum karma itu tidak pandang bulu. Meskipun orang suci, jika berbuat salah tetap akan mendapat hukuman. Reaksi dari perbuatan itu sulit untuk dihapus, maka dari itu ada beberapa pakar yang menyatakan tidak setuju jika malam Siwaratri diistilahkan sebagai malam peleburan dosa.
Umumnya Siwaratri dilaksanakan dengan laku brata yang sudah di jelaskan diatas, : Mona Brata ( pengendalian dalam kata – kata). Mona brata sering diistilahkan dengan tidak mengucapkan kata – kata sepatahpun. Sehingga hal seperti ini bisa menimbulkan kesalah – pahaman. Karena jika seorang teman sedang bertandang kerumah dan menyapa atau bertanya, tapi yang ditanya tidak menyahut, menyebabkan orang menjadi tersinggung. Maunya melakukan tapa mona brata, justru malah melakukan himsa karma, karena membuat orang lain menjadi jengkel dan sakti hati. Kalaupun punya niat tapa brata semacam itu, sebaiknya pergi ke hutan atau ketempat yang sunyi, jauh dari keramaian.
Upawasa yaitu pengendalian dalam hal makan dan minum. Jadi disini ditekankan tidak diharuskan untuk berpuasa / tidak makan dan minum semalam suntuk. Melainkan pengendalian dalam hal makan dan minum. Umat dibebaskan untuk melaksanakan bratanya, mau puasa ya silahkan, tidakpun tidak apa – apa. Hanya saja brata itu berlaku untuk seterusnya.
Jagra yaitu pengendalian tidur atau dalam keadaan jaga semalam suntuk hingga menjelang pagi disertai melakukan pemujaan kepada Siwa sebagai pelebur kepapaan. Jadi pada malam Siwaratri itu yang terpenting adalah begadang demi dia ( Siwa ). Bukan begadang main gaple atau nonton TV. Pada keesokan harinya melaksanakan Darma Santhi, pergi saling menungjungi kerumah sahabat, sambil bermaaf – maafan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Malam Siwaratri bukanlah malam peleburan dosa, melainkan peleburan kepapaan dari kelemahan sifat – sifat manusia. Semua manusia memiliki kepapaan, karena dibelengu oleh nafsu – nafsu indrianya / raganya.
Itulah sebabnya sangat dianjurkan untuk melaksanakan brata Siwaratri pada Tilem Kepitu yaitu sehari menjelang Tilem Kepitu. Yang tujuannya semata – mata untuk mengurangi kepapaan dari nafsu – nafsu indria yang dimiliki oleh umat manusia.
Terutama sekali yang berupa 7 ( tujuh ) kegelapan yang disebut dengan Sapta Timira ( tujuh macam kemabukan ). Diantaranya adalah ;

  1. Surupa ( mabuk karena rupawan / rupa tampan atau cantik ),
  2. Dhana ( mabuk karena kekayaan ),
  3. Guna ( mabuk karena kepandaian ),
  4. Kasuran ( mabuk karena kemegahan ),
  5. Kulina ( mabuk karena keturunan bangsawan ),
  6. Yowana ( mabuk karena keremajaan ),
  7. Sura ( mabuk karena minuman keras ).

Ternyata bukan minuman keras saja yang menyebabkan seseorang menjadi mabuk, melainkan juga ke enam keberuntungan itu. Jika tidak hati – hati membawa dan menjaga keberuntungan itu, justru membuat seseorang menjadi sombong dan terjerumuslah dia kedalam kegelapan.
Makna hari suci Siwaratri adalah untuk menyadari bahwa seseorang berada dalam pengaruh kegelapan. Kegelapan itulah yang harus diterangi, baik jiwa, pikiran maupun badan jasmaninya. Kegelapan itu harus disingkirkan dengan ilmu pengetahuan rohani. Yang paling penting sekali adalah berkat dari Sang Hyang Siwa sendiri. Beliaulah yang akan menghapus kepapaan, ketidak berdayaan melawan hawa nafsunya sendiri. Mungkin ribuan orang akan menyoraki dan mencaci maki seorang penjahat yang mendapat hukuman. Bahkan pula dilempari dengan batu. Namun beliau ( Sang Hyang Sada Siwa ) menangis melihat umat-Nya dalam kesengsaraan. Beliau tidak membenci malah lebih bersimpati pada mereka yang mengalami nasib buruk seperti itu.
Itulah keutamaan beliau, tidak membenci siapapun, walaupun penjahat kelas kakap yang dibenci jutaan manusia. Beliau tetap berbelas kasih. Bersedia mengampuni, asal umat-Nya dengan tulus iklas berserah diri, pasrah total kehadapan-Nya. Beliau sendiri yang akan mebimbing dan memutuskan keadilan-Nya. Maka sangat dianjurkan untuk melaksanakan brata Siwaratri ini kepada siapa saja. Karena pintu tobat dan pengampunan pada hari itu terbuka lebar – lebar.
Ada lagi disebutkan keutamaan brata Siwaratri dalam lontar “Siwaratrikalpa” buah karya Mpu Tanakung, bahwa jika seseorang mampu melaksanakan laku ; upawasa, mona brata dan jagra pada hari itu, yang tujuannya memuja Sang Hyang Sada Siwa, serta memohon pengampunan-Nya maka dosanya akan terhapus. Melaksanakan salah satu dari brata itupun sangat sulit, apalagi ketiganya sekaligus. Meskipun cuma satu hari satu malam.
Dan beliau ( Mpu Tanakung ) juga mengisyaratkan bahwa brata Siwaratri melebihi semua jenis yajna. Untuk itulah, seseorang jangan berputus asa jika sudah terlanjur melakukan kesalahan. Karena Siwaratri bisa dilaksanakan dimana saja ( di rumah, di Pura, di tempat sunyi, bahkan di Lembaga Pemasyarakatan / Penjara ). Justru disinilah mungkin ( di Lemaga Pemasyarakatan ) brata Siwaratri itu dilaksanakan lebih khusuk.
Apa tujuannya Monabrata, upawasa dan mejagra. Pada dasarnya, laku – laku tapa brata adalah untuk pengendalian diri ( mengekang hawa nafsu ). Atau dengan kata lain membiasakan berkata dan bertingkah laku yang baik. Monobrata maksudnya adalah mengubah kebiasaan dari suka berkata – kata kasar, memaki, memfitnah, membicarakan keburukan orang, menjadi senang berkata – kata yang lemah lembut, membicarakan kebaikan orang lain, senang mengagungkan nama Tuhan. Monobrata pada hari suci Siwaratri diarahkan untuk mengucapkan nama Tuhan didalam lubuk hati secara terus menerus.
Ada kebiasaan umat yang membawa tasbih atau genitri. Ada juga yang tidak membawa apa – apa. Yang penting adalah nilai kekhusukannya. Tapa monobrata tujuannya adalah sangat luhur dan mulia, terutama sekali untuk mengekang nafsu marah dan angkara murka. Sebab kata – kata yang kasar bisa melukai perasaan orang lain sampai bertahun – tahun.
Maka orang yang dikuasai oleh nafsu murkanya, tak dapat tidak niscaya ia melakukan perbuatan jahat, sampai akhirnya dapat membunuh guru, dan sanggup ia membakar hati seorang saleh, yaitu menyerang dia dengan kata – kata yang kasar. Brata Siwa Ratri Pada Tilem Kepitu Tambahan pula orang yang dikuasai oleh nafsu murka, sekali – kali tidak tahu akan perkataan yang keliru dan yang benar, sekali – kali mereka tidak mengenal perbuatan yang terlarang dan yang menyalahi dharma serta sanggup mereka mengatakan sesuatu yang tidak layak untuk dikatakan.
Maka monobrata diusahakan sekali untuk dilaksanakan meski tidak hanya pada hari Suci Siwaratri saja. Karena begitu besar manfaatnya, bagi pembentukan sifat dan karakter seseorang. Hakekatnya yang disebut nafsu murka, adalah musuh didalam diri kita ; jika ada orang yang dapat menghilangkan nafsu murka itu, maka ia pun akan disegani, dipuji dan dihormati selama ia ada di dunia.
Kemudian laku upawasa yaitu berpuasa tidak makan dan minum adalah untuk menunjang jalannya brata monobrata. Supaya konsentrasi seseorang yang menjalankan laku ini tidak pecah. Mengistirahatkan kerja usus, lambung dan kerongkongan serta mulut pada hari suci itu, untuk tujuan pemujaan. Berpuasa secara fisik dan mental menjadikan tujuan itu terpusat kesatu arah. Apalagi disertai dengan japam ( pengulangan mantra ), sehingga meditasi itu menjadi khusuk.
Mejagra yaitu begadang semalam suntuk, dalam tradisi India ada diistilahkan dengan “Akanda Bhajan”. Yaitu mengidungkan nama – nama suci Tuhan selama 24 jam secara terus menerus, sambung menyambung.
Begitupun halnya dengan mejagra, begadang semalam suntuk sambil mengidungkan nama-Nya di dalam hati secara terus menerus. Makna dari mejagra ini adalah, agar seseorang senantiasa terjaga selama hidupnya, dengan kata lain tidak lupa diri ( mabuk ) tidak dikuasai oleh 7 ( tujuh ) nafsu kemabukan itu. Demikianlah ulasan tentang malam Siwa Ratri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 170 other followers

%d bloggers like this: